Kamis, 01 Maret 2012

beatbox


Kalau banyak yang main beatbox, toko musik jadi gak laku. Apa sih beatbox?
”Beatbox itu seni musik yang menciptakan ketukan dari mulut sendiri dan bisa dimainkan 1 atau lebih pemain”. Ini kata Billy Tamnge, seorang beatboxer.
Hi putabuers, tahu beatbox gak sih? ”Beatbox? Apaan tuh?” kata Arif Septyandi, pelajar SMAN 9 Bekasi. Ternyata, beatbox masih terbilang langka dan jarang orang tahu. Ternyata, beatbox ada di Jakarta.
Mau tahu seluk-beluk komunitas beatbox? Basecamp-nya komunitas beatbox, JBC (Jakarta Beatboxing Community), adalah komunitas beatbox yang didirikan pada 4 Desember 2007 lewat situs sosial Friendster. Komunitas ini dibentengi Indra Aziz, Billy Tamnge, dan Tito. Jumlah pencinta beatbox memang belum banyak, baru sekitar 20 orang.
Pertengahan 2008 JBC berubah nama menjadi IBC (Indonesia Beatboxing Community). Nah, lewat IBC, beatbox mulai mewabah di kalangan remaja lewat situs Facebook. Di sini pencinta beatbox sekitar 450 orang. Penjaga gawangnya tetap Indra Aziz, Billy Tamnge, dan Tito. Sarah menjadi manajer IBC.
Kenapa JBC jadi IBC?
Sebab, banyak pencinta beatbox dari luar Jakarta, misalnya Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Palembang. Selain itu, Billy juga pengin meyebarluaskan beatbox di Indonesia.
Mereka bikin acara, seperti Battle Beatbox Ex Championship. IBC juga mengadakan pertunjukan sendiri atau bergabung dengan komunitas lain, di antaranya komunitas yoyo dan komunitas breakdance. IBC ikut siaran radio dan mejeng di televisi, seperti TransTV.
Tempat komunitas IBC biasa nongkrong itu di Taman Menteng, Jakarta. Mereka latihan tiap Rabu pukul 8 malam. ”Hm, bayarannya? Yang penting pada bayar parkir, ha-ha-ha,”ujar Billy.
Kenapa suka beatbox?
”Karena gue suka banget nyanyi dan suka apa pun yang berhubungan dari mulut,” ujar Billy.
Para remaja menyukai beatbox umumnya karena musiknya aneh dan unik. Dengan beatbox bisa diciptakan berbagai jenis musik, dari hip hop sampai jazz.
Para beatboxer itu, selain latihan di Taman Menteng, juga belajar dari Youtube. Di sini ada pertunjukan beatbox, lengkap dengan cara berlatihnya.
Oh iya, putabuers, ternyata beatboxer ini punya pantangan sendiri lho untuk menjaga suara mereka! Pantangan yang harus dihindari beatboxer yaitu makan gorengan karena bisa merusak suara. Merokok juga tidak disarankan, tetapi beatboxer umumnya tidak merokok karena harus bisa mengatur pernapasan.
Putabuers, di balik kegembiraan pasti ada kesedihan. Apa sih suka dukanya jadi beatboxer?
”Sukanya, bisa latihan bareng. Gue bisa ngumpul bareng anak-anak beatbox lainnya. Gue bisa belajar sama beatboxer yang udah andal,” kata Yoga, salah seorang anggota IBC.
Dukanya, beatboxer sering dibilang orang aneh karena bisa latihan di sembarang tempat. Apalagi kalau orang yang ngedengerin gak tahu beatbox.Jadilah, disebut orang aneh.
Asal mulanya
Tentang sejarah beatbox. Akhir tahun 1880-an, grup kulit hitam (biasanya kuartet) menyanyikan a-capella. Mereka hanya menggunakan harmonisasi suara ma sing-masing untuk menciptakan musik. Mereka akan menahan lama, nada rendah, yang kita dengar sebagai suara bass dalam beatbox modern.
Vokal perkusi digunakan grup kuartet itu untuk membantu musik mereka mengatur tempo, seperti klik pada lidah dan menarik napas dalam-dalam, hingga nyaring bersuara. Ya, beratus-ratus tahun yang lalu, sebelum Kenny Mohammed, musisi Barbershop kulit hitam telah lebih dulu menguasai ”The Inward Snares” (teknik penciptaan suara snare dengan menarik napas).
Meskipun vokal perkusi adalah latar belakang dari jenis musik ini, hal itu juga berpengaruh pada timbulnya scatting dan dengungan bass pada alunan jazz, blues, dan musik swing yang berjarak beberapa tahun kemudian.
Beatbox lahir dari orang kulit hitam, sebab dulu banyak di antara mereka yang hidup miskin. Mereka tak mampu membeli peralatan DJ dan round table, jadilah membuat beat atau nada dari mulut mereka sendiri.
Kini beatbox tersebar di dunia. Tapi tetap aja di Indonesia, beatbox kurang promosi.
Formasi grup seperti The Beatbox Alliance, dengan backing-an major corporate, membuat
beatboxing bagian dari komunitas hip-hop.
Tahun 2000, Rahzel membuat beatboxing menjadi lebih dikenal di mainstream dengan membawakan sebuah lagu Alliyah, ”If Your Mother Only Knew”. Sejak itu, Rahzel diberi predikat sebagai orang pertama yang memodifikasi seni bernyanyi dan beatboxing secara bersamaan.
Kelihatan gampang
Putabuers mau tahu caranya ber-beatbox? Kita harus bisa mengucap ”B, T, K”. Kita juga mesti bisa mengucap kalimat ”BUF” dan ”PSF”.
”Kalau dibilang susah, ini sih relatif. Ini susah-susah gampang. Kalau seperti itu kan biasa kita lakukan, tapi perlu latihan pastinya,” kata M Deni Mardiansyah, mahasiswa Unpad yang ikutan latihan dasar beatbox.
Ber-beatbox itu susah-susah gampang. Asal putabeurs mau terus berlatih dan gak menyerah, pasti bisa. Bagi putabeurs yang mau gabung, bisa lewat indonesianbeatboxcomunity@yahoo.com.
Tim MuDA Magang: Akbarry Noor (SMAN 12 Jakarta), Arya Praditya (SMAN 2 Pamulang), Wais Zahroh (SMAN 1 Tambun Selatan), Robin (SMKK Rahmani Jakarta), Stephanus Adrianto (SMAK Kanisius Jakarta)

Jumat, 03 Februari 2012

S COKROAMINOTO : SOEKARNO, KARTOSUWIRYO DAN SEMA
TEPATNYA pada tahun 1882, Haji Oemar Said Cokroaminoto lahir sebagai bakal tokoh pergerakan yang pada akhirnya dikenal sebagai pendiri Sarikat Islam, sebuah organisasi pergerakan yang berteguh prinsip pada kebangsaan dan agama. HOS Cokroaminoto sohor dengan kata mutiaranya yang sangat menginspirasi, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”

Kalimat mutiara singkat itu pulalah yang berubah menjadi obat jiwa pergerakan pemuda saat itu, tidak terkecuali tiga murid beliau yang saling berbeda aliran dan akhirnya menjadi legenda pergerakan nasional: Soekarno yang nasionalis, Semaun yang komunis, dan Kartosoewirjo yang agamis. Kata mutiara itu menggambarkan suasana perjuangan Indonesia yang saat itu membutuhkan tiga jiwa dan kemampuan pada diri seseorang untuk mewujudkan kemerdekaan dan membangun negaranya Indonesia.
Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo. Lahir dari keluarga bangsawan tak membuatnya bersikap angkuh, justru karena itulah ia akhirnya menjadi sebuah motor penggerak kemerdekaan bagi Indonesia saat semua manusia tertidur dalam belaian kompeni Belanda. Dialah tokoh politik yang berhasil menggabungkan retorika politik melawan penjajah Belanda dengan ideologi Islam hingga mengenyahkan penjajah dari Bumi Nusantara.

Setelah menamatkan studi di Oplayding School Foor Inladishe Ambegtenaren (OSVIA), sekolah pegawai pemerintahan pribumi Magelang, ia mengikuti jejak kepriayian ayahnya sebagai pegawai pangreh praja walaupun akhirnya ia tinggalkan karena muak dengan kebiasaan sembah jongkok yang baginya sangat melecehkan.

Tahun 1905 Cokroaminoto pindah ke Surabaya dan bekerja pada perusahaan dagang, di samping ia juga belajar di sekolah malam Hogore Burger School. Bersama istrinya, Suharsikin, ia mendirikan rumah kos di rumahnya, yang nantinya melalui rumah inilah Cokro menyalurkan ilmunya dalam agama, politik dan berorasi yang akhirnya menjadi cikal bakal pembentukan tokoh-tokoh penting di Indonesia; seperti Soekarno yang nasionalis, SM Kartosuwirjo yang Islamis dan Muso-Alimin yang komunis.

Rakyat yang tertindas oleh penjajah kolonial Belanda secara ekonomi dan politik telah mengusik pemikiran dan hatinya. Cokroaminoto pun ‘mengejawantahkan’ kegundahan hatinya melalui statemen, “Negara dan bangsa kita tidak akan mencapai kehidupan yang adil dan makmur, pergaulan hidup yang aman dan tenteram selama ajaran-ajaran Islam belum dapat berlaku atau dilakukan menjadi hukum dalam negara kita, sekalipun sudah merdeka.”


Beliau juga mengatakan bahwa saat itu telah terjadi Jahiliah modern. “Kalau alat-alat pemerintah RI yang memegang tampuk kekuasaan pemerintahan, baik pihak pejabat sampai bawahan, sudah tidak takut lagi kepada hukuman Allah, yakinlah negara akan rusak dan hancur dengan sendirinya. Sebab, segala perbuatan jahat, korupsi, penipuan, suap dan sebagainya yang secara terang-terangan merugikan negara, dilakukan dengan aman oleh mereka; rakyat yang menjadi korban.”

Apa yang disampaikan oleh Cokroaminoto tampak jelas bahwa syariah Islam dijadikan sebagai landasan pikiran, perasaan dan hatinya. Oemar Said juga menyatakan, “Tidak bisa manusia menjadi utama yang sesungguhnya, tidak bisa manusia menjadi besar dan mulia dalam arti kata yang sebenarnya, tidak bisa ia menjadi berani dengan keberanian yang suci dan utama, kalau ada banyak barang yang ditakuti dan disembahnya. Keutamaan, kebesaran, kemuliaan dan keberanian yang sedemikian itu hanyalah bisa tercipta karena ‘tauhid’ saja. Tegasnya menetapkan lahir batin: tidak ada sesembahan melainkan Allah saja.”

Inilah komitmen diri seorang HOS Cokroaminoto.

Untuk merealisasikan cita-cita perjuangannya, yakni menuntut Indonesia bersyariah, ia masuk ke dalam Sarekat Dagang Islam (SDI) yang saat itu dipimpin oleh H. Samanhudi di Solo, sebuah pergerakan pertama Indonesia yang menggelorakan semangat kemerdekaan. Tujuan SDI adalah kemerdekaan dan pemberlakuan syariah Islam. Sejak masuknya ia ke dalam SDI, SDI berubah menjadi sebuah organisasi yang besar dan menakutkan bagi kolonial. Kemahirannya serta kepiawaiannya berpolitik dalam menyuarakan kemerdekaan Indonesia dan memihak kepentingan rakyat membuat SDI begitu digandrungi rakyat pribumi. Apalagi setelah SDI berubah menjadi SI dan ia menjadi pemimpin SI. Lewat Cokro tujuan SI mulai diperjelas, yakni kemerdekaan Indonesia dan pemberlakuan syariah Islam bagi segenap lapisan rakyat.

Karena aktivitas politiknya, Belanda akhirnya menangkap Cokro pada tahun 1921 karena dikhawatirkan akan membangkitkan semangat perjuangan rakyat pribumi walaupun akhirnya dibebaskan pada tahun 1922, sebuah cobaan yang lazim diterima para penegak syariah Islam di seluruh dunia.

Pada tanggal 14-24 Juni 1916 diadakanlah Kongres Nasional pertama di Bandung. Di dalam kongres tersebut Cokro mengupas tentang pembentukan bangsa dan pemerintahan sendiri, sebuah langkah yang sangat berani saat itu karena bagi rakyat pribumi kemerdekaan adalah hal yang tabu untuk disampaikan; suatu langkah politik yang benar-benar berani. Cokro membangun opini rakyat yang belum mengerti politik untuk berpihak terhadap perjuangannya, yaitu menuntut Indonesia merdeka dan bersyariah Islam.

Saat itu pemerintah kolonial masih kuat apalagi saat itu Belanda masih menerapkan peraturan Reegerings Reglement (RR) sebuah peraturan yang berisi larangan berpolitik, berkumpul untuk membahas perjuangan kemerdekaan. Otomatis Cokro saat itu harus berhadapan dengan dua lawan, yaitu Belanda dan Pangreh Praja yang menjadi kaki tangan Belanda.

Pada tahun 1924, Cokro mulai aktif dalam komite-komite pembahasan Kekhilafahan yang dicetuskan pemimpin politik di Timur Tengah, sebuah langkah untuk memperkuat barisan menuju kemerdekaan dan kekhalifahan dunia.

Bagi Cokro, Islam adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan dipersatukan sebagai dasar kebangsaan yang hendak di proses menuju Indonesia. Sebuah spirit besar muncul dari diri Cokro, yakni “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”. Sungguh bahwa apa yang diharapkan Cokroaminoto adalah menjadikan syariah Islam sebagai solusi atas permasalahan negeri.


Sekilas Sarikat Islam
Sebagai pimpinan Sarikat Islam, HOS dikenal dengan kebijakan-kebijakannya yang tegas namun bersahaja. Kemampuannya berdagang menjadikannya seorang guru yang disegani karena mengetahui tatakrama dengan budaya yang beragam. Pergerakan SI yang pada awalnya sebagai bentuk protes atas para pedagang asing yang tergabung sebagai Sarekat Dagang Islam yang oleh HOS dianggap sebagai organisasi yang terlalu mementingkan perdagangan tanpa mengambil daya tawar pada bidang politik. Dan pada akhirnya tahun 1912 SID berubah menjadi Sarekat Islam. Adapun tujuan-tujuan pokoknya antara lain:


1. Mengembangkan jiwa dagang.
2. Membantu anggota-anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha.
3. Memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat.
4. Memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam.
5. Hidup menurut perintah agama.


Seiring perjalanannya, SI digiring menjadi partai politik setelah mendapatkan status Badan Hukum pada Maret 1916 oleh pemerintah yang saat itu dikontrol oleh Gubernur Jenderal Idenburg. SI kemudian berkembang menjadi parpol dengan keanggotaan yang tidak terbatas pada pedagang dan rakyat Jawa-Madura saja. Kesuksesan SI ini menjadikannya salah satu pelopor partai Islam yang sukses saat itu.


Perpecahan SI menjadi dua kubu karena masuknya infiltrasi komunisme memaksa HOS Cokroaminoto untuk bertindak lebih hati-hati kala itu. Ia bersama rekan-rekannya yang masih percaya bersatu dalam kubu SI Putih berlawanan dengan Semaun yang berhasil membujuk tokoh-tokoh pemuda saat itu seperti Alimin, Tan Malaka, dan Darsono dalam kubu SI Merah. Namun bagaimanapun, kewibaan HOS Cokroaminoto justru dibutuhkan sebagai penengah di antara kedua pecahan SI tersebut, mengingat ia masih dianggap guru oleh Semaun. Singkat cerita jurang antara SI Merah dan SI Putih semakin lebar saat muncul pernyataan Komintern (Partai Komunis Internasional) yang menentang Pan-Islamisme (apa yang selalu menjadi aliran HOS dan rekan-rekannya). Hal ini mendorong Muhammadiyah pada Kongres Maret 1921 di Yogyakarta untuk mendesak SI agar segera melepas SI merah dan Semaun karena memang sudah berbeda aliran dengan Sarekat Islam. Akhirnya Semaun dan Darsono dikeluarkan dari SI dan kemudian pada 1929 SI diusung sebagai Partai Sarikat Islam Indonesia hingga menjadi peserta pemilu pertama pada 1950.


HOS Cokroaminoto hingga saat ini akhirnya dikenal sebagai salah satu pahlawan pergenakan nasional yang berbasiskan perdagangan, agama, dan politik nasionalis. Kata-kata mutiaranya seperti “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat” akhirnya menjadi embrio pergerakan para tokoh pergerakan nasional yang patriotik, dan ia menjadi salah satu tokoh yang berhasil membuktikan besarnya kekuatan politik dan perdagangan Indonesia.


H.O.S. Cokroaminoto meninggal di Yogyakarta pada 17 Desember 1934 pada usia 52 tahun, dan dimakamkan di TMP Pekuncen, Yogyakarta
sumber: kampoeng multimedia